Artikel 1:
Pendidikan formalVs Informal.Penting mana?
Pagi hari menonton acara diskusi MetroTV soal pentingnya pendidikan, dan diskusi terbuka via telpon mengenai perlunya pendidikan tinggi, kaitannya dengan mahalnya biaya pendidikan tinggi saat ini, menampilkan beberapa contoh termasuk Bapak Sony Sugema, pengusaha bimbingan belajar, yang (saya baru tahu) ternyata tidak sempat lulus karena keterbatasan biaya dahulu ketika mengenyam pendidikan tinggi.
Diskusi mengalir dengan agak flat out, karena sang narasumber terlihata “agak” menekankan pentingnya ilmu disiplin dia relatif terhadap pertanyaan pendengar. Terlepas dari diskusi yang ada, kajian ini cukup menarik, karena relevansi terhadap perubahan dunia saat ini.
Menurut hemat saya, point pendidikan ini cukup menarik, mengingat kita sebagai negara memiliki status “tertinggal” di dalam banyak hal. Dan salah satu reputasi yang “tidak enak” dalam percaturan dunia adalah… sedemikian apa pun tingkat intelektualitas kita, nilai executive
Nah penting mana sih pendidikan formal atau informal? Menurut pandangan saya, keduanya memegang peranan penting. Pendidikan formal penting, non formal juga sama pentingnya, dapat memperoleh keduanya juga suatu anugerah. Bagaimana dengan yang tidak beruntung memperoleh kesempatan mengenyam pendidikan tinggi karena faktor biaya? Hmm rasanya ini merupakan PR utama pemerintah disamping gerakan swasembada yang bisa dilakukan masyarakat untuk mengulurkan tangan.
Namun kok masih terasa kental atmosfir lulusan pendidikan tinggi kita sangat tidak siap dengan dunia kerja yang merupakan dunia sebenarnya yang akan ditempuhnya sebagai sandaran hidup di sepanjang sisa hidupnya? Apakah pendidikan kita saat ini sudah sangat tidak berorientasi dengan dunia kerja? (terlepas dari pendidikan-pendidikan kejuruan/keahlian yang lebih “siap pakai”
Artikel 2:
Pendidikan informal tak tersentuh, anggaran 20 persen tertimpang
Selasa, 26 Agustus 2008 14:28
(
"Semangatnya UUD 1945, 20 persen alokasi anggaran diterjemahkan untuk pendidikan, jadi sepenuhnya untuk depdiknas. Padahal struktur pendidikan ada formal, informal dan non formal," jelas Erman pada wartawan dalam Rakor Nasional Depnakertrans tahun 2008 di
Menteri menguraikan, untuk pendidikan formal memang menjadi tanggung jawab departemen pendidikan nasional, sedangkan informal ada di depnakertrans. "Dan untuk sektor pendidikan nonformal biasanya ada di masyarakat," ujarnya.
Untuk itu, lanjutnya, sektor pendidikan yang perlu dibantu adalah pendidikan informal. Misalnya, ada pelatihan untuk pengangguran, tapi dananya tidak ada yang dialokasikan untuk pendidikan semacam ini. Kemudian, ada sekelompok masyarakat yang ingin mengadakan pelatihan jurnalistik profesional, anggaran dana juga tidak ada.
Jika semua anggaran 20 persen hanya dialokasikan untuk depdiknas, Erman menegaskan, "Itu artinya politik anggaran UUD 1945 tidaklah tepat," tandasnya. (Mimie/IOT-03)
Artikel 3 :
Pendidikan Informal:PAUD Muslimat NU Berstandar Internasional
Ditulis oleh Administrator
Saturday, 04 August 2007
BANDAR LAMPUNG (Lampost): Untuk meningkatkan kompetensi, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Lathifah milik Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) menerapkan metode pembelajaran beyond centers and circle time (BCCT) dan berstandar internasional.
Demikian disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muslimat NU Hj. Khofifah Indar Parawansa usai menghadiri pembukaan pelatihan keaksaraan fungsional (KF) dan loka karya pertanian yang digelar Pimpinan Wilayah (PW) Muslimat NU Provinsi Lampung di Wisma Bandar Lampung, Kamis (7-6). Hadir Direktur Jenderal (Dirjen) Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, Departemen Pertanian Djoko Said, Kepala Biro Pemberdayaan Perempuan Pemerintah Provinsi Lampung Ellya Muchtar dan puluhan pejabat teras, organisasi wanita dan 1.200 anggota Muslimat NU se-Lampung.
Pada kesempatan itu Khofifah juga meresmikan PAUD Lathifah di Jalan W.R. Supratman, Telukbetung Selatan, Bandar Lampung.
Selanjutnya Khofifah menjelaskan fokus metode pembelajaran BCCT dengan mengajak anak-anak lebih aktif, inovatif, dinamis, partisipasif, dan agamais dengan bahasa pengantar bahasa Inggris. Yakni mulai dari proses belajar mengajar hingga alat permainan edukatif (APE) dikemas sedemikian rupa sehingga anak-anak makin kreatif dan inovatif. Misal saja, mulai dari tempat duduk dan meja harus ditata sedemikian rupa dengan posisi melingkar. Sehingga anak-anak diajak berdiskusi tentang berbagai hal juga mengenal huruf dan angka, serta cara menghitung dan membaca yang dikemas secara rekreatif. Sesuai pembelajaran PAUD yakni belajar sambil bermain. "Jadi, tak hanya TK dan raudhatul athfal (RA) saja yang berstandar internasional, tapi juga PAUD Muslimat NU."
Selanjutnya ia menjelaskan, saat ini, Muslimat NU memiliki 2.224 PAUD, dari jumlah tersebut terbanyak di Jawa Timur (Jatim). "Di Lamongan, Jatim, kami memiliki 560 PAUD. Bahkan PAUD Tarahan di Kalimantan Timur, Batam, dan Sidoardjo menjadi PAUD percontohan," ujar dia.
Tahun ini, ia menargetkan setiap anak cabang (kecamatan) dan ranting (kelurahan) memiliki PAUD.
Muslimat NU juga memiliki 9.800 taman kanak-kanak (TK) dan 11.900 taman pendidikan Alquran (TPA), dan 32 pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) yang tersebar di berbagai pelosok Tanah Air.
Sementara, Ketua PW Muslimat NU Provinsi Lampung Hj. Hariyanti Syafrin
menjelaskan PW Muslimat NU memiliki PAUD, TK/RA, taman pendidikan agama (TPA), taman pendidikan Quran (TPQ) di bawah naungan Yayasan Al Ma'arif yang tersebar di 10 kabupaten/kota.
Sementara itu, Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian Djoko Said mengaku salut atas komitmen Muslimat NU dalam membantu pemerintah baik di bidang pendidikan, pertanian, ekonomi, dan sebagainya.
Hal senada juga disampaikan Kepala Biro Pemberdayaan Perempuan Pemerintah Provinsi Lampung Ellya Muchtar. "Sebagai underbouw dari ormas NU, ternyata kiprah Muslimat NU sangat banyak. Tak hanya meningkatkan pendidikan dan dakwah, tapi juga pemberdayaan perempuan," ujar dia. AST/S-1
Artikel 4 :
* Pendidikan Nonformal dan Informal Pun Perlu Perhatian
Soekartawi
TULISAN ini saya siapkan setelah menonton acara RCTI dalam programnya Who Wants to be a Millionaire, Sabtu 9 April 2005, di mana peserta yang bernama Agus, seorang loper (penjaja) koran memenangi hadiah sebesar Rp 500 juta dan merupakan hadiah terbesar selama acara tersebut digelar.
BAGAIMANA seorang loper koran mampu menjawab pertanyaan yang begitu sulit, membuat penonton-di studio, saya sekeluarga, dan bahkan pemandu acara, Tantowi Yahya-terkagum-kagum. Di situ terjadi dialog yang membuat orang terharu, sekaligus bangga. Bahkan saya lihat beberapa ibu yang wajahnya tertampang di layar TV menangis dan bahkan berteriak-teriak histeris.
Saat yang kritis itu terjadilah dialog yang maknanya sungguh luar biasa bagi fenomena pendidikan kita dewasa ini, bahkan menyentuh perasaan orang yang mengikutinya.
Tantowi, si pemandu acara, berkata, "Agus, kamu sebaiknya mundur saja dan dapat Rp 250 juta daripada kamu menjawab tidak pasti dan nanti kalau jawabanmu salah kamu hanya dapat Rp 32 juta."
Agus, dengan kesederhanaannya seperti yang diekspresikan di wajahnya menjawab dengan pasti, "Tidak mundur."
Tantowi balik bertanya, "Kenapa? Apakah kamu yakin dengan jawabanmu itu..."
Agus menjawab dengan tenang, "Ya, yakin!"
"Dari mana kamu tahu jawaban itu benar?"
"Saya pernah membacanya."
Jawaban inilah yang menjadikan semua orang heran dan terkagum, termasuk Tantowi. Pertanyaan itu memangnya bukan level-nya ditanyakan pada seorang loper koran, tetapi Agus ternyata dapat menjawabnya. Setelah ditanya lagi, ternyata dia suka membaca koran bekas sebab koran yang baru diperuntukkan bagi pelanggannya. Ini adalah salah contoh keberhasilan pendidikan informal atau nonformal yang justru selama ini luput dari perhatian orang banyak.
Yang dipersoalkan orang selama ini adalah terlalu berat pada masalah pendidikan formal, misalnya subsidi BBM untuk pendidikan, kenaikan SPP, ujian nasional, gedung sekolah rusak, gaji guru dan dosen rendah, dan banyak lulusan menganggur. Padahal, jumlah mereka yang masuk dalam klasifikasi pendidikan formal ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan jumlah orang yang terlibat dan memerlukan pendidikan informal dan nonformal. Karena perhatian ke pendidikan formal begitu besar, tidak mengherankan kalau sekarang ini banyak orang mengejar ijazah, bukan mengejar ilmu pengetahuan dan keterampilan seperti yang dicontohkan oleh Agus tadi. Akibatnya, banyak pemilik ijazah menjadi kecewa kalau mereka tidak mendapatkan pekerjaan.
Pendidikan massal
Selama tiga tahun terakhir ini saya mendapatkan tugas untuk memperkenalkan dan mengembangkan pendidikan terbuka dan jarak jauh (PTJJ) atau yang lebih dikenal dengan istilah education atau distance learning, baik dengan metoda konvensional yang mengandalkan pada bahan cetak, audio dan video maupun metoda terbaru dengan e-learning, on-line learning atau web-based learning untuk kawasan Asia Tenggara. Negara lain di Asia Tenggara ini sudah memanfaatkan cara ini untuk program pendidikan massal agar masyarakat dapat dengan cepat menikmati pendidikan untuk menciptakan masyarakat madani (knowledge society), khususnya dalam mengantisipasi pengaruh global sekarang ini. Lebih dari itu, program pendidikan massal juga dimaksudkan dalam kerangka pendidikan untuk semua (education for all) dan pendidikan selama hayat (life long education) selama orang masih dapat meningkatkan kualitas diri melalui pendidikan, apakah itu pendidikan formal, nonformal maupun informal.
Tokoh Agus, seperti yang diceritakan di atas, tentunya bukan satu-satunya contoh keberhasilan seseorang dalam menambah ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dilakukan melalui pendidikan informal atau nonformal. Tentu saja kalau dia memang sungguh-sungguh dan serius belajar mandiri. Dengan berkat kesungguhan dan kejujuran itulah akhirnya Agus dapat mencapai cita-citanya di mana ia ke
Tokoh Agus tentunya berlawanan dengan tokoh Gelas dalam sinetron Bujangan yang ditayangkan di SCTV, yang dimainkan oleh Anjasmara. Tokoh Anjas adalah contoh dari ketidakberhasilan pendidikan kita, di mana Anjas berangkat dari
Dalam situasi di mana APBN untuk pendidikan masih terbatas, perlu dipikirkan bagaimana menyelesaikan masalah pendidikan dewasa ini dengan cara menambah orang-orang seperti yang dicontohkan Agus, si loper koran tersebut. Caranya? Dapat dilakukan melalui pendidikan massal dengan cara distance learning apakah itu melalui teknik e-learning, on-line learning atau web-based learning. Mengapa mesti distance learning?
Apa itu "distance learning"?
Orang sering pula menamakannya distance education atau pendidikan jarak jauh. Ciri-ciri dari distance learning atau DL antara lain adalah (a) sistem pendidikan yang pelaksanaannya memisahkan guru dan siswa. Mereka terpisahkan karena faktor jarak, waktu, atau kombinasi dari keduanya; (b) karena guru dan siswa terpisahkan, maka penyampaian bahan ajar dilaksanakan dengan bantuan media-e-learning, seperti media cetak, media elektronik (audio, video), atau komputer dengan segala keunggulan yang dimilikinya; (c) bahan ajarnya bersifat "mandiri". Untuk e-learning atau on-line course bahan ajarnya disimpan dan disajikan di komputer; (d) komunikasinya dua arah, baik yang disampaikan secara langsung (synchronuous) maupun secara tidak langsung (asynchronuous); (e) sistem pembelajarannya dilakukan secara sistemik (terstruktur), teratur dalam kurun waktu tertentu. Kadang-kadang juga dilakukan pertemuan antara guru dan siswa, entah dalam forum diskusi, tutorial, atau dengan pertemuan tatap muka ("residential class"). Namun, pertemuan tatap muka tidak boleh mendominasi pelaksanaan pendidikan; (f) paradigma baru yang terjadi dalam DL adalah peran guru yang lebih bersifat "fasilitator" dan siswa sebagai "peserta aktif" dalam proses belajar-mengajar. Karena itu, guru dituntut untuk menciptakan teknik mengajar yang baik, menyajikan bahan ajar yang menarik, sementara siswa dituntut untuk aktif berpartisipasi dalam proses belajar.
Dalam banyak kasus, hasil DL ini cukup membanggakan dan tidak kalah dengan hasil pendidikan tatap muka. Tentu saja kalau DL tersebut dilaksanakan secara baik dan benar. Sebaliknya, masalah yang sering dihadapi dalam pelaksanaan DL umumnya adalah kurang tersedianya infrastruktur dan sumber daya pendukungnya, kurang siapnya SDM yang terlibat (baik guru, siswa maupun teknisi), cara penyampaiannya yang tidak memerhatikan kaidah-kaidah DL dan kurang atau tidak adanya dukungan kebijakan.
Di samping itu, masyarakat juga sering punya persepsi yang keliru tentang DL. Misalnya, kualitasnya kurang menjamin, biayanya mahal, tidak diakreditasi oleh pemerintah, tidak asyik karena tidak ada interaksi antara siswa dan siswa atau siswa dan guru. Hal seperti ini mestinya tidak perlu terjadi kalau mereka mengerti dan kalau DL itu dilaksanakan secara baik dan benar.
Dalam banyak kenyataan, jarang sekali ditemui DL yang seluruh proses belajar-mengajarnya dilaksanakan dengan e-learning atau on-line learning. Untuk memperkecil kritik terhadap DL, maka blended DL (campuran antara on-line course dan tatap muka) adalah solusinya. Juga dalam blended DL ini tidak juga perlu membentuk lembaga pendidikan sendiri, seperti universitas terbuka, tetapi cukup membuat unit yang khusus menangani blended DL ini. Dengan demikian, pelajaran yang dilakukan secara on-line learning dapat hanya satu atau beberapa saja: tutorialnya saja, satu program studi saja, dan sebagainya.
Pengalaman negara lain dan juga pengalaman distance learning di Indonesia ternyata menunjukkan sukses yang signifikan, antara lain: (a) mampu meningkatkan pemerataan pendidikan; (b) mengurangi angka putus sekolah atau putus kuliah atau putus sekolah; (c) meningkatkan prestasi belajar; (d) meningkatkan kehadiran siswa di kelas, (e) meningkatkan rasa percaya diri; (f) meningkatkan wawasan (outward looking); (g) mengatasi kekurangan tenaga pendidikan; dan (h) meningkatkan efisiensi.
DL pendidikan informal dan nonformal
Barangkali tidak berlebihan kalau penulis mempertanyakan mengapa pemerintah tidak memanfaatkan cara blended DL ini untuk melayani kebutuhan pendidikan nonformal dan informal guna mempercepat pemerataan pendidikan di Indonesia, sekaligus realisasi konsep education for all dan life-long education seperti yang diamanatkan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Untuk pendidikan formal memang telah digarap melalui pendidikan jarak jauh, telah dilaksanakan melalui PPPG-Tertulis Bandung, SMP, SMA, dan universitas terbuka walaupun jumlah, kualitas, dan cakupannya masih perlu ditingkatkan terus.
Kebutuhan pendidikan nonformal dan informal yang ada di masyarakat sekarang ini adalah sangat besar dibandingkan dengan kebutuhan akan pendidikan formal. Bisa dimengerti karena di zaman global seperti sekarang ini persaingan untuk mendapatkan pekerjaan semakin kuat sehingga peningkatan kemampuan diri sangat diperlukan. Cara seperti blended DL untuk pendidikan nonformal dan pendidikan informal adalah jawabannya.
Bagaimana caranya? Sebenarnya tidak terlalu sulit. Saya kira cukup banyak SDM kita yang telah menguasai teknologinya. Yang diperlukan sekarang adalah dukungan politik sekaligus komitmen dari pemerintah. Pelaksanaannya? Bisa dilakukan oleh pemerintah, swasta, atau pemerintah yang berpartner dengan masyarakat dalam pelaksanaannya. Semoga!
Soekartawi Pemerhati Pendidikan dan Pertanian, Dosen Universitas Brawijaya dan Mantan Direktur SEAMEO SEAMOLEC
Artikel 5 :
KOMPETENSI TUTOR TERBATAS, PENDIDIKAN INFORMAL ALTERNATIF TERAKHIR
Kategori: Umum (399 kali dibaca)
Menurut Erman pada “Apresiasi Wartawan Peduli PTK-PNF” di Gedung Gerai Informasi Depdiknas Jakarta, Rabu (5/7) selain itu pamong belajar, penilik, TLD (Tenaga Lapangan Dikmas), pendidik PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), instruktur kursus dan pengelola satuan Pendidik PNF masih dihadapkan pada persoalan-persoalan intensif, daya saing dan kepemimpinan.
Diperlukan upaya strategis, sistematik dan berkelanjutan dalam pembangunan mutu pendidikan khususnya pendidikan non formal yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan terkait, katanya.
"PNF idealnya tidak lagi minim sentuhan, dalam konteks peningkatan mutu maka pemerintah membuka ruang seluas-luasnya bagi warga masyarakat untuk terlibat dalam memberikan saran maupun kritik terhadap mutu penyelenggaraan pendidikan itu, terutama menyangkut mutu PTK- PNF," katanya.
Relevansi dengan semangat keterbukaan dan untuk mewujudkan kualitas PNF, pemerintah menurut dia memandang perlu menyebar-luaskan informasi tentang PNF dan secara khusus mutu PTK-PNF. Salah satu elemen yang dapat menjadi mitra kerjasama strategis dalam penyebarluasan informasi tentang mutu pendidik dan tenaga kependidikan PNF adalah wartawan, katanya.
Pertimbangan tersebut relevan mengingat keberadaan wartawan merupakan kekuatan pembentuk opini yang sangat signifikan pada era informasi dewasa ini. Salah satu bentuk kegiatan yang akan diselenggarakan dalam rangka kerjasama strategis adalah “Apresiasi Wartawan Peduli PTK-PNF”.
Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan mutu saling pengertian dan kesepahaman antara Dit. PTK-PNF Ditjen PMPTK dengan wartawan tentang perlunya dukungan media
Juga memberikan apresiasi secara selektif kepada wartawan Koran nasional maupun daerah yang telah menulis tentang PTK-PNF dan meningkatkan efektifitas sosialisasi strategi, program dan kegiatan Dit. PTK-PNF Ditjen PMPTK kepada masyarakat luas yang membutuhkan sehingga terbangun partisipasi dan dukungan dari masyarakat yang lebih berkelanjutan.
Kegiatan ini berkesesuaian dengan upaya pemerintah dalam menata kebijakannya dalam tema-tema sbb:perluasan dan pemerataan akses, peningkatan mutu, relevansi, dan daya saing, serta peningkatan tata kelola, akuntabilitas dan pencitraan publik.
Depdiknas mempunyai perhatian sangat besar terhadap peningkatan mutu pendidikan di
Artikel 6
Re: [assunnah] Berbagi tentang Homeschooling
lulu aliudin
Assalamualakum warohmatullohi Wa Barokatuh
Sekedar menambahkan apa yang telah dipaparkan oleh al Akh fatkhurrahman tentang
hal-hal teknis pelaksanaan homeschooling. Ana kutipkan penjelasan beberapa
petinggi depdiknas republik Indonesia yang saya dapatkan dari Seminar
"Homeschooling ? Siapa Takut" di Kantor depdiknas Ri jakarta.
Beberapa Tinjauan Peraturan Perubdangan Terhadap Homeschooling
oleh Agung Purwadi, D.Ed., M. Eng (Kepala Pusat Penelitian Kebijakan dan
Inovasi Pendidikan Balitbang Depdiknas"
Jalur yang ada pada pendidikan nasional dan hakikat pendidikan informal
Pendidikan dilaksanakan melalui tiga jalur: formal, nonformal, dan informal
(UUSPN pasal 13 ayat 1). pendidikan formal (PF) terdiri dari 3 jenjang dan
mencakup 7 jenis. Jenjang pendidikan formal adalah pendidikan dasar, menengah
dan tinggi. Sedangkan jenisnya adalah pendidikan umum, akademik, profesi,
vokasi (kejuruan), keagamaan, dan khusus.
Pendidikan nonformal (PNF) berfungsi sebagai pengganti. penambah dan/atau
pelengkap pendidikan formal dalam mendukung prinsip pendidikan sepanjang hayat
(life-long learning). PNf setidaknya memiliki 7 jenis: pendidikan anak usia
dini,kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan,keaksaraan,
kesetaraan,keterampilan kerja, pendidikan kecakapan hidup dll. dengan demikian,
PNf meliputi spektrum pendidikan yang jauh lebih luas dibandingkan PF.
Pendidikan informal dilakukan oleh keluarga dan lingkungan (UUSPN pasal 27 ayat
1). Artinya seseorang dapat menyelenggarakan pendidikan informal untuk peserta
didik yang merupakan anggota keluarganya atau tetangga yang tinggal di
lingkungannya. Pendidikan informal ini dilaksanakan dalam bentuk belajar secara
mandiri. mengingat fungsi dan prinsip penyelenggaraan pendidikan, dan mengingat
tidak dicantumkannya jenis, apalagi jenjang pendidikan, yang menetapkan batasan
pendidikan pendidikan informal, maka dapat ditafsirkan bahwa pendidikan
informal mencakup spektrum yang paling luas diantara ketiga jalur pendidikan
yang ada di indonesia.
Selanjutnya mengingat batasan pendidikan informal tersebut, maka Homeschoolinng
dapat dikategorikan sebagi salah satu bentuk dari pendidikan informal. Istilah
"salah satu bentuk" digunakan dalam menjelaskan kedudukan Homeschoooling
terhadap pendidikan informal mengingat tidak tertutupnya kemungkinan tentang
adanya bentuk pendidikan informal lain pada saat ini dan di masa depan.
Sebagai salah satu bentuk layanan pendidikan pada jalur informal, Homeschooling
sudah mendapat pengakuan dalam undang-undang (UU no 23 tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan nasional)
Kutipan kedua dari tulisan Kak Seto, orangtua yang "tidak menyekolahkan dua
anaknya" bertajuk "Homeschooling, Pendidikan Alternatif Masa Depan"
Homeschooling-sebuah sistem pendidikan atau pembelajaran yang diselenggarakan
di rumah- kini sedang ramai dibicarakan orang. Sejumlah media massa, elektronik
ataupun cetak, juga telah mempopulerkan sistem pendidikan alternatif yang
bertumpu dalam suasana keluarga ini. Homeschooling semakin menjadi perhatian
dalam dua tahun terakhir ini antara lain sejak begitu banyaknya orangtua
merasakan bahwa suasana pembelajaran di banyak sekolah (negeri maupun swasta)
kurang mengedepankan kepentingan terbaik bagi anak. Kemudian banyak anak yang
menjadi stress karena sekolah dan kehilangan kreativitasnya yang alamiah.
(pada presentasi makalahnya, Kak Seto menjelaskan bahwa kurikulum di Indonesia
ini termasuk yang sangatpadat. Dan sebagimana kita ketahui kurikulum pendidikan
negeri ini tidaklah membimbing bangsa Indonesia untuk bertaqwa kepada Alloh,
sehingga tidak heran jika kondisi bangsa ini sebagaimana yang kita lihat.
semoga Alloh senantiasa memberi petunjuk kepada bangsa ini. Dengan kondisi
seperti ini sungguh saya sangat tidak tega menyekolahkan anak dengan kurikulum
yang mengabaikan pendidikan Din Al Islam. nas-alulloh as salamah wal afiah)
Kutipan ketiga dari makalah Dr. Ela Yulaelawati (Direktur Pendidikan Kesetaraan
Dirjen pendidikan luar sekolah) bertajuk Sekolah rumah dan pendidikan
alternatif. Saya jelaskan secara umum tentang makalah beliau. beliau membagi 2
kategori Sekolahrumah: Tunggal dan Majemuk( sekolahrumah majemuk adalah program
yang dilaksanakan Al Akh Abu samhan Fatkhurrahman dan oleh saya sendiri.
sekolahrumah tunggal adalah program yang dijalankan Kak Seto karena dia
memberikan sendiri pendidikan anaknya tanpa melibatkan orang lain)
Beliau menyebutkan syarat-syarat pelaksanaan sekolah rumah sebagi berikut
Tunggal
Mendaftarkan diri kepada Dinas pendidikan setempat melalui Kasubdin yang
membidangi pendidikan luar sekolah dengan melampirkan:
-Surat pernyataan ke2 ortu yang menyatakan bahwa sebagai ortu mereka
bertanggungjawab untuk melaksanakan pendidikan anak-anak di rumah secara sadar.
terencana dan terartur dan berkesinambungan. khusus untuk anak-anak diatas 13
tahun atau yang dudah menamatkan SMP harus membuat Surat Pernyataan bahwa yang
bersangkutan (si anak)bersedia untuk dididik melalui Sekolahrumah
-melampirkan bukti rapor, ijazah dan surat pengunduran diri dari sekolah
terdahulu, jika peserta didik sedang atau pernah dididik dalam sekolah formal.
-Program Sekolahrumah yang mencantumkan Format sekolah rumah yang dipilih,
jadwal belajar, kegiatan serta progra dan kurikulum yang digunakan.
Majemuk
Mendaftarkan.....(sama seperti diatas)
-surat pernyataan dari sekurang-kurangnya 5 keluargadan paling banyak 10 yang
siap melaksanakan Sekolah Rumah Majemuk....... (sama seperti diatas)
Demikian kutipan dari makalah yang dibagikan pada Seminar Homeschooling
beberapa waktu lalu. Insya Alloh akan ana tambahkan ganbaran Homeschooling di
beberapa belahan dunia.
--------------------------------
Do you Yahoo!?
Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail Beta.
Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
Artikel 7
MEMBANGUN KEBIASAAN MEMBACA
1. PENDAHULUAN
Pada intinya, manusia Indonesia masa depan adalah insan yang cerdas dan kompetitif. Yang dimaksud dengan cerdas adalah cerdas yang meliputi cerdas spiritual, cerdas emosional, cerdas sosial, cerdas intelektual, dan cerdas kinestetis. Yang dimasud dengan insan kompetitif adalah insan yang berkepribadian unggul dan gandrung akan keunggulan, bersemangat juang tinggi, mandiri, pantang menyerah, pembangun dan pembina jejaring, bersahabat dengan perubahan, inovatif dan menjadi agen perubahan, produktif, sadar mutu, berorientasi global, dan pembelajar sepanjang hayat. Dengan kata-kata lain, manusia Indonesia ditransformasikan dari masyarakat tradisional yang langka IPTEK dan yang memiliki estetika dan etika tradisional menjadi masyarakat moderen yang sarat IPTEKS dan yang memiliki estetika dan etika moderen.
Pembangunan manusia adalah suatu proses berkelanjutan yang membutuhkan penanganan yang serius dan tindakan segera. Dalam pelaksanaannya, semua pemangku kepentingan (stakeholders) perlu bekerja sama. Itulah sebabnya pendidikan tidak semata-mata pendidikan formal, tetapi meliputi pendidikan informal dan pendidikan nonformal. Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan.
Atas dasar betapa luasnya aspek pendidikan dalam pembangunan manusia, maka pendidikan dimasa depan tidak boleh hanya bertumpu kepada peranan pendidikan formal, tetapi harus secara simultan bertumpu pada pendidikan nonformal dan informal. Perananan masyarakat dalam pendidikan nonformal dan peranan keluarga dalam pendidikan informal, misalnya dalam menumbuhkan kebiasaan membaca, justru harus digalakkan dimasa depan. Cara menumbuhkan kebiasaan membaca dapat dilihat pada Bagian berikut.
2. MEMBANGUN KEBIASAAN MEMBACA
Kebiasaan membaca merupakan syarat bagi terciptanya insan cerdas dan kompetitip. Bahan bacaan adalah jendela bagi penggalian, pengasahan, pemerkayaan dan pengaktualisasian kemampuan afektif, kognitif dan psikomotorik manusia. Dengan demikian, masyarakat perlu membaca banyak buku. Akan tetapi, masalahnya adalah bagaimana meningkatkan minat baca publik.
Salah satu indikator untuk mengukur kebiasaan membaca pada masyarakat adalah jumlah surat kabar yang dikonsumsi oleh masyarakat. Angka ideal adalah 1:10, artinya setiap surat kabar dikonsumsi sepuluh orang, tetapi di Indonesia angkanya 1:45, di Sri Lanka 1:38, dan di Philipina 1: 30.
Berdasarkan hasil penelitian, Bank Dunia dalam laporannya pada tahun 1998 tentang pendidikan di indonesia menyebutkan siswa-siswa kelas enam SD Indonesia mempunyai nilai 51,7 dan Philipina 52,6 serta Thailand 65,1 dalam kemampuan membaca. Dua negara maju yaitu Singapura dan Hongkong masing-masing mempunyai nilai 74,0 dan 75,5 dalam kemampuan membaca.
Yang menjadi pertanyaan adalah faktor-fartor apakah yang menyebabkan rendahnya minat baca tersebut? Secara teoritis, banyak faktor dapat disebutkan, antara lain kurang tersedianya buku-buku yang berkualitas, terbatasnya kemampuan keuangan, kurangnya dan tidak meratanya akses masyarakat kepada bacaan atau kepada perpustakaan dan toko buku, kurang tersedianya buku yang mampu menarik minat masyarakat, belum tumbuhnya kebiasaan atau budaya membaca pada masyarakat, dan membaca belum menjadi kebutuhan utama masyarakat. Drs. H. Athaillah Baderi pada pidato ilmiahnya dalam rangka pengukuhannya sebagai pustakawan utama pada tahun 2006 yang lalu menghipotesiskan rendahnya minat dan kemampuan membaca disebabkan membaca belum menjadi kebutuhan hidup dan belum menjadi budaya bangsa Indonesia.
Untuk menjadikan membaca sebagai kebiasaan atau kebudayaan bangsa Indonesia diperlukan upaya-upaya yang sistematis, sistemik, terencana dan sungguh-sungguh. Dari hasil seminar internasional yang diselenggarakan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia bersama Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca pada bulan Agustus 2006 di Jakarta terungkap strategi dan cara membangun kebiasaan membaca pada masyarakat Jepang, Belanda, Australia, Malaysia dan Singapura.
Di Jepang anak dikondisikan dengan bahan bacaan. Murid diwajibkan membaca selama 10 menit sebelum dilakukan kegiatan belajar mengajar. Selain itu, anak-anak telah dibiasakan dengan bahan bacaan meskipun anak itu sendiri belum bisa membaca.
Di Belanda, siswa diwajibkan memperkaya pengetahuan dengan membaca. Untuk itu, Belanda membangun sistem perpustakaan yang baik agar siswa mendapat bahan bacaan.
Di Australia, siswa dibekali dengan semacam kartu untuk menuliskan judul buku yang dibaca. Kemudian, siswa menceritakan dan menilai isi buku yang dibaca sebelum pelajaran dimulai setiap hari. Siswa harus membaca minimal 7 judul buku dalam seminggu.
Di Malaysia, Pustaka Publik Negeri Sarawak bekerjasama dengan orang tua menanamkan kebiasan membaca ketika anak masih kecil. Pustaka Negeri akan memberi beberapa buah buku kepada orang tua untuk dibacakan di hadapan anaknya, dan dalam beberapa pekan Petugas Pustaka Negeri Sarawak akan mengganti bahan bacaan tadi.
Di Singapura, kurikulum mengharuskan siswa datang ke perpustakaan. Selain itu, siswa diwajibkan menyelesaikan suatu kegiatan persekolahan yang harus didukung oleh literatur yang cukup.
Di Basilia, menurut sumber lain, siswa SD pada masa libur diwajibkan membaca text book minimal 3 buah buku (masing-masing 2-3 bab plus summary.
3. PENUTUP
Seikatan dengan keberadaan Pakpak di NKRI dan dunia global, diperlukan pengembangan SDM Pakpak secara terarah. Visi : Terciptanya Pakpak yang berahlak mulia, berkompetensi unggul, dan berdaya saing tinggi pada tahun 2020. Misi (satu diantara misi-misi) : mentransformasikan Pakpak menjadi masyarakat moderen yang kaya IPTEKS moderen. Program (satu diantara program-program) : meningkatkan budaya baca masyarakat. Kegiatan (satu diantara kegiatan-kegiatan) : membangun perpustakaan atau Taman Bacaan di Kabupaten Pakpak Bharat.
Kita warga Pakpak, dimana pun kita berada dan apapun profesi kita, dan berapapun umur kita, perlu menciptakan diri menjadi individu yang biasa membaca, dan akhirnya berbudaya membaca.
Eta mo kaltu, keke kita Pakpak i !!!!!!!!!!!
Lias ate,
Dr. Ir. Sabam Malau
Email : Pakpak_keke@yahoogroups.com atau drsabammalau@yahoo.co.id
Kupetandaken diringku mendahi ke :
1. Simenubuhken aku imo Ibunda Almarhum R Berutu i kuta Km-20 Sibande, Kab Pakpak Bharat, na i.
2. Aku Ketua Komisi Penyuluhan Pertanian Kabupaten Pakpak Bharat Periode 2008-2013 na iangkat Bupati bulan Agst 2008.
3. Aku Tamaten SDN-1 Sukarame, Kec Kerajaan, Kab Pakpak Bharat (1972); Tamaten SMPN-2 Sidikalang (1975), Tamaten SMAN-225 Sidikalang (1979), Tamaten IPB Bogor (1983, S1), Tamaten Univ Georg-August, Goettingen, Jerman (1991, S3).
4. Aku Dosen Fakultas Pertanian Universitas HKBP Nommensen Medan
5. Aku Staf/Tenaga Ahli atau Konsultan di Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara.
Artikel 8
Pendidikan Informal Banyak Gagal
Evaluasi dan Audit Penyelenggaraan
Pontianak,-
Anggota DPRD Kalbar Katherina Lies meminta penyelenggaraan pendidikan informal perlu evaluasi dan audit lembaga independen. Menurut dia, program yang dilaksanakan dinilainya banyak gagal daripada berhasil. Seperti program penuntasan buta aksara atau program Kejar Paket A, kepala daerah jangan hanya menerima hasil di atas kertas saja. Tetapi coba turun ke lapangan melihat secara langsung kondisinya,” tegas dia, kemarin, di ruang kerjanya.
Anggota Komisi D DPRD Kalbar ini mengatakan menemukan lokasi program Kejar Paket A di dapilnya, dimana pertemuan antara penyelenggara atau instruktur dengan peserta didik hanya satu kali setahun. Sebut dia, sedangkan hasil yang dilaporkan kepada pemerintah daerah kabupaten/kota selalu baik-baik saja.
“Penyelenggaraan program pendidikan informal ini dilakukan oleh instansi terkait dengan mitranya. Dana yang dikeluarkan tidak sedikit untuk memberantas buta aksara maupun program pendidikan informal seperti sistim paket,” ungkap Katherina.
Legislator dari PDS ini menyebutkan mengaudit berhasil atau tidak cukup gampang. Jelas dia, dimana dilaksanakan program disitulah tim mengaudit apakah peserta bisa membaca atau tidak, mengenal huruf atau tidak.
“Semuanya akan dapat dilihat apakah instansi terkait melaksanakan tugas bersama mitranya secara serius atau tidak. Makanya, saya berpendapat perlu ada sebuah evaluasi dan audit untuk itu,” tegas legislator perempuan ini.
Secara terpisah, aktivis PMII, Nurfitriansyah mengatakan beberapa rekan yang sempat KKN di kawasan pedalaman beberapa waktu lalu memang sempat menemukan masyarakat buta aksara. Sebut dia, mahasiswa yang KKN sempat memberikan pelajaran kepada warga di sekitar mereka praktek lapangan.
“Kita sangat mendukung jika ada audit penyelenggaraan pendidikan informal yang hanya berhasil menurunkan buta aksara beberapa persen selama lima tahun. Uang negara yang dikeluarkan cukup besar untuk itu,” tegasnya.
Dia mengharapkan ada lembaga independen dapat mendorong pengauditan tersebut. Sehingga, kata dia, ada transparansi penyelenggaraan pendidikan. “Mudah-mudahan, pemerintah daerah mau melakukan hal itu,” harap dia. (riq)
<>
Artikel 9
Telkom Mewujudkan cita-cit On Line Indonesia
Kepala Sekolah Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) se-DKI Jakarta menjadi saksi dalam dua penandatangan sekaligus yaitu Nota Kesepahaman (Nokes) antara TELKOM dan Dinas Pendidikan (DISDIK) provinsi DKI Jakarta dan PKS tentang layanan teknologi informasi dan komunikasi untuk pengembangan pendidikan di Provinsi DKI Jakarta. Penandatanganan tersebut dilaksanakan pada Rabu, 4 Maret 2009 lalu di Aula lantai 2 Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta Jl. Gatot Subroto 40-41 Jakarta Selatan. Dari para peserta yang hadir, tampak dari pihak DISDIK sendiri selain para kepala sekolah juga tampak Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta Taufik Yudi Mulyanto beserta jajarannya.
Dalam sambutannya setelah penandatanganan Nokes tersebut, Joni Santoso mengucapkan terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada TELKOM untuk turut andil dalam mewujudkan cita-cita mulia dan luhur dari Departemen Pendidikan Nasional dan instansi-instansi di bawahnya, termasuk Dinas Pendidikan. “TELKOM akan membantu Departemen Pendidikan Nasional dan Dinas Pendidikan untuk mewujudkan cita-cita luhurnya yaitu membangun jaringan pendidikan nasional”, ungkapnya.
Lebih lanjut, Joni Santoso mengungkapkan kepedulian TELKOM terhadap dunia pendidikan di Indonesia yang diimplementasikan melalui program 6C, yaitu: Completeness, Coverage, Competitive price, Corporate Social Responsibility (CSR) programs, Competence, dan Care. Dalam penjelasannya, beliau menekankan bahwa program-program tersebut telah dibuat sebaik-baiknya untuk mengakomodasi dan meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, salah satunya dalam program CSR yaitu “internet goes to school”. Dengan “internet goes to school” tersebut TELKOM berusaha untuk memperluas wawasan dan ruang lingkup ilmu pengetahuan di sekolah yang masih terbatas oleh buku.
Kepala Dinas Pendidikan provinsi DKI Jakarta dalam sambutannya mengungkapkan appresiasi kepada TELKOM yang turut membangun prasarana bagi dunia pendidikan. Hal ini dapat dipastikan akan memberikan kontribusi yang sangat besar. “Ibarat kata seperti jalan, TELKOM telah membuatkan jalan tol bagi dunia pendidikan” sambutnya. Lebih lanjut, Taufik meminta pihak TELKOM juga merambah dunia pendidikan informal yang tak kalah krusial di peta pendidikan di Indonesia mengingat banyaknya pendidikan informal yang disediakan di negara ini. “Saya harap, TELKOM juga membantu dunia pendidikan informal yang merupakan bagian dari dunia pendidikan di Indonesia selain pendidikan formal yang didapat di sekolah-sekolah” lanjutnya.
Sistem Informasi Aplikasi Pendidikan Online (SIAP Online) yang ditawarkan pihak TELKOM tersebut merupakan gebrakan besar dari sistem pendidikan konvensional yang ada. Dengan adanya SIAP Online ini, TELKOM menawarkan beberapa applikasi penting, antara lain penerimaan siswa baru (PSB) secara Online dan aplikasi-aplikasi yang akan menjadi wadah bagi para guru, siswa, dan orangtua serta dinas-dinas pendidikan yang sudah “tersentuh” SIAP Online ini. (DivCommDives)
Prev: Telkom launching Speedytrek
Next: Selamat bertugas Kapolda Kalsel baru Dr. Drs. Untung S. Radjab
Artikel 10
Homeschooling Solusi, atau Kerugian
| Judul: Homeschooling Solusi, atau Kerugian
Akhir-akhir ini metode pendidikan Homeschooling sedang ramai diperbincangkan oleh masyarakat, dipelopori oleh Kak Seto melalui Asah Pena yaitu sebuah lembaga yang didirikan untuk membantu proses belajar mengajar di dalam Homeschooling, apalagi juga didukung melalui pemberitaan yang luas dari media masa, maka semakin tinggilah apresiasi masyarakat -gembor terhadap metode pembelajaran ini, apalagi dengan gembar-gembor dari media massa yang menyatakan bahwa Homeschooling merupakan alernatif pendidikan yang sangat tepat untuk saat ini mengalahkan dominasi sekolah yang sudah sejak dahulu berada dalam garis terdepan dalam melakukan pembelajaran kepada siswa maka masyarakat perlu dijelaskan apakah memang Homeschooling seindah yang mereka bayangkan?
Saya Huzaifah Hamid setuju jika bahan yang dikirim dapat dipasang dan digunakan di Homepage Pendidikan Network dan saya menjamin bahwa bahan ini hasil karya saya sendiri dan sah (tidak ada copyright). .
Artikel 11 Seni Tradisi (Nusantara) dan Pembelajarannya di Sekolah
Artikel 12 Pendidikan Informal Akan Diintegrasikan
Artikel 13 Perbanyak Sekolah Informal
Artikel 14 Homeschooling dan Kesiapan Orang Tua
Artikel 15 Dewan Anggap Home Schooling Liar
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar